Selasa, 20 Desember 2011
Galau
1. Mendekatkan diri kepada yang Maha
kuasa, banyak berdoa agar kita terlepas dari kegalauan tersebut. Memohon
diberikan jalan dan petunjuk terbaik terhadap penyelesaian permasalahan
yang sedang dihadapi.
2. Segera menyelesaikan permasalahan
atau penyebab galau itu sendiri, harus diingat bahwa menyimpan masalah
dan tidak segera menyelesaikannya bagai menyimpan bom waktu yang
sewaktu-waktu pasti akan meledak.
3. Lepaskan dan sampaikan hasrat atau
uneg-uneg penyebab galau tersebut, jika sobat memendam rasa terhadap
seseorang akan lebih baik disampaikan kepada orang tersebut. Walaupun
hasilnya terkadang tidak seperti yang diharapkan namun akan lebih
meringankan beban perasaan sobat.
4. Cobalah memanajemen waktu sobat,
jadwalkan waktu khusus dalam sepekan untuk refreshing atau berolahraga.
Lakukan kegiatan kegiatan atau rutinitas yang tidak biasa, akan
membabantu fikiran sobat menjadi lebih fresh.
5. Mendengarkan lagu-lagu atau musik yang gembira akan menghantarkan sobat menjadi lebih segar.
6. Mencari orang yang dapat dipercaya
untuk bercerita atau curhat terhadap permasalahan yang sobat hadapi,
walaupun tidak didapat solusi yang terbaik tapi paling tidak ada
referensi masukan untuk memecahkan masalah tersebut.
7. Selalu berfikir positif (Positif Thinking) dalam menjalani kehidupan, buang prasangka buruk kepada sobat dan rekan.
8. Pergi kepantai, kegunung dan teriak sekeras-kerasnya sampai merasa fresh dan segar. Buang semua kegalauan disana.
Itulah beberapa tips anti galau yang dapat dijadikan bahan referensi sobat, semoga membantu. Salam Anti Galau...!!
Hidup Adalah Perayaan.
Bahagia itu bisa berarti apa saja. Bahkan menurut salah seorang teman, termasuk mengetahui bahwa kita baru saja terluka.
Ketika engkau menangis. Air matamu adalah hadiah dari Tuhan. Karenanya berbahagialah karena hidup adalah perayaan.
Ketika kita pertama sekali berteriak di muka bumi ini, kita
bergembira, kita bersorak, kita menangis sangking bahagianya. Tuhan
telah memberikan awal hadiahnya kepada kita, yaitu kehidupan.
Tuhan menitipkan kita ke dalam perut seorang ibu yang begitu asih.
Dia yang mengandung kita, bertahan dengan segala kelemahan dan
keletihannya, demi kita. Kadang kita bertanya, mengapa harus kepada
seorang wanita kita dititipkan? Mengapa tidak kepada seorang lelaki yang
nan perkasa?
Karena kita adalah hadiah bagi dunia, dia memberikan kita melalui
tangan yang paling lembut diantara dua kelamin. Kepada seorang wanita.
Kepada seorang ibu.
air mata cinta
Ada banyak kesedihan yang harus ditawarkan dalam setiap perjalanan
kehidupan. Bahkan pun gembira harus ditawarkan, agar tidak menjadi
terlalu manis, asin, ataupun pahit. Kebanyakan orang tidak pernah
mentawarkan diri mereka kepada kebahagian, seperti manis yang selalu
hidup di dalam diri kita. Kita terus mengkonsumsi manisnya kehidupan
sehingga tidak punya ruang untuk mengingat bahwa dalam setiap episode,
ada namanya kesedihan.
Kesedihan seringnya datang dengan berbagai rasa. Aku kadang
merasakannya sebagai suatu yang pahit, lebih pahit dari obat. Kadang
asin, lebih asin dari lautan ataupun tambang garam. Kadang serupa manis
yang keterlaluan.
Banyak yang bingung. Bagaimana kesedihan mampu datang dalam bentuk
yang begitu manis. Kadang, dalam suatu rasa kesedihan, ada sebuah rasa
seperti mendapatkan berita baru dalam suatu kehidupan. Menambahkan satu
poin kebijakan dalam memandang hidup ini. Aku memberikan rasa manis
terhadap kesedihan yang demikian. Manis yang keterlaluan.
Namun, apa yang aku rasakan saat ini belum mampu aku jabarkan. Dalam
kategori manakah kesedihan yang sedang berlangsung ini. Apakah dia akan
menjadi sesuatu yang aku sebut pahit, ataukah asin, atau mungkin jika
kelak di ujung aku akan menyebutkan sebuah rasa manis yang ditawarkan
kehidupan oleh rasa luka.
Cinta satu
Biarkan cinta itu bicara pada saat-saat terpentingnya; di mana hidup adalah realita. Tumpahkan rasa asmara yang telah lama imsak; ketika
masa puber berontak, semasa jiwa muda berteriak, dalam mengarungi
bahtera keluarga yang sah. Karena di sinilah tempat cinta. Dan untuk ini
teriakan jiwa muda. Ia adalah muara cinta yang suci nan abadi.
Kalau
kita tahu, bahwa cinta itu bermuara, cinta itu suci layak untuk
dipelihara, mengapa kita harus terjebak dalam kata-kata cinta yang
membosankan --bukan pada tempatnya dan tak jelas ujung-ujungnya? Lalu
kalau kita sepakat bahwa cinta itu bertempat, kenapa kita harus
membuang-buang tenaga, menguras otak dan mengosongkan jiwa demi mengejar
asmara
di luar arenanya? Bukankah menunggu beduk menahan lapar untuk berbuka
puasa, akan terasa indah dan nikmat saat tiba waktu berbuka? Pupuklah
cinta dengan siraman kasih ilahi, sampai rampung bangunan keluarga
tempat cinta itu bersemi.
Masa remaja, memang seakan terasa hampa tanpa nuansa asmara
dan cinta. Sebab pada masa-masa itu cinta mulai memahami fitrahnya,
mulai berani ungkapkan rasa, tapi ia sebetulnya masih baru belajar
rahasia. Mahatma Ghandi pernah berkata: "Cinta tidak pernah meminta, ia
senantiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah
berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada
kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan". Makanya, cinta
itu harus terangkum dalam bangunan keluarga. Muara cinta.
Tak
heran, kalau Hamka pernah mengartikan cinta sebagai harapan masa depan
yang indah, kala ia ditempatkan pada tempatnya yang sah, tapi bila
sebaliknya, ia tak lebih dari sebuah durjana, beliau berkata: "Cinta itu
adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana
setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah
yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,
tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipuan,
langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh
kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji".
Indah
betul cita rasa cinta yang suci dan sejati, hasilnya adalah kepuasan
hati. Sayangnya banyak orang hanya melihat hasilnya saja, kemudian ia
beranjak brutal dan tak melihat batas-batas etika, bahkan buta
norma-norma. Dengan lantang banyak orang mengatakan: "Demi sebuah cinta,
aku mau melakukan apa saja". Padahal –sebenarnya-- ia telah melakukan
tindak pidana, memenjarakan sekeping hati manusia, bahkan merusak
tatanan sosial atas nama cinta. Karena cinta dibiarkan ada begitu saja,
tanpa batas, tanpa muara.
Kemuadian apa hasilnya? Aborsi, membunuh jiwa nan suci. Haruskah??
Dalam
fenomena aborsi, mestinya banyak hal yang harus diamati. Ukurlah
kekecewaan bayi-bayi yang terpaksa dilecehkan, bahkan dibuang hanya
karena ia merasa tidak aman. Ia merasa sengsara karena harus berada
dalam nuansa cinta yang tak bertempat dan nyasar di mana-mana. Walaupun,
sebenarnya bayi itu akan sangat bahagia dan berpotensi besar untuk
membahagiakan aktor cinta, bila ia berada dalam bangunan yang kuat
--walau sangat sederhana--, yaitu keluarga sakinah.muara cinta
Jika kita tertarik pada seseorang, carilah seseorang yang dapat
menarik muara hatimu. Bila di muara hatimu ada sebuah senyum maka dia
bisa membuat senyum di bibirmu. Sebab Mengapa??
- Sebab muara hati adalah perasaan jiwamu yang paling dasar. Dan bila
daerah ini terpesona pada seseorang maka seluruh ragamu akan mengangguk
setuju.
- Sebab seutas senyum dapat membuat hari-hari yang mendung menjadi cerah. Seutas senyumpun dapat mengubah kesedihan menjadi keceriaan. Dan bila kau tersenyum, muara jiwamulah yang menggerakan bibirmu…
Semoga kita menemukan seseorang seperti itu. Dan jangan lupa, dia harus laki-laki atau wanita beriman.
Langganan:
Postingan (Atom)





